Bagian 6: Pembuatan Konten Digital

⏳ Waktu Pelatihan: 3 Jam

🎯 Level: Menengah

🧠 Metode: Praktik & Teori

📦 Format Materi: Teks, Gambar, Video

🎯 Tujuan: Mampu merencanakan, membuat, mengoptimalkan, dan mengevaluasi konten digital yang efektif dan menarik, termasuk memahami dasar pembuatan website.

1. Apa Itu Konten Digital?

Konten digital adalah segala bentuk informasi atau pesan yang dibuat, dikemas, dan disebarkan melalui media digital. Bentuknya dapat berupa teks, gambar, infografis, audio, video, animasi, maupun kombinasi dari beberapa format tersebut.

Dalam digital marketing, konten bukan hanya sekadar sesuatu yang "diposting". Konten seharusnya memiliki tujuan yang jelas, ditujukan kepada audiens tertentu, memberikan manfaat, dan bila diperlukan mengarahkan audiens menuju tindakan tertentu.

Misalnya, sebuah LPK dapat membuat konten tentang tips memilih pelatihan kerja. Konten tersebut dapat memberikan informasi kepada calon peserta, membangun kepercayaan terhadap lembaga, kemudian mengarahkan mereka untuk melihat program pelatihan atau menghubungi LPK melalui WhatsApp.

2. Mengapa Konten Sangat Penting dalam Digital Marketing?

Konten merupakan salah satu penghubung utama antara brand dan calon pelanggan. Sebelum seseorang membeli produk atau menggunakan jasa, mereka sering kali membutuhkan informasi terlebih dahulu.

Karena itu, konten dapat digunakan untuk:

Jadi, tujuan konten tidak selalu harus langsung menjual. Konten edukasi yang bermanfaat juga dapat menjadi investasi untuk membangun hubungan jangka panjang dengan audiens.

3. Tentukan Tujuan Sebelum Membuat Konten

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membuat konten tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Akibatnya, kita hanya sibuk membuat dan memposting konten, tetapi tidak mengetahui apakah konten tersebut berhasil atau tidak.

Sebelum membuat konten, tentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.

Satu konten boleh memiliki lebih dari satu manfaat, tetapi sebaiknya tetap ada satu tujuan utama agar pesan yang disampaikan tidak terlalu melebar.

4. Kenali Target Audiens

Konten yang baik bukan hanya berbicara tentang apa yang ingin kita sampaikan, tetapi juga tentang apa yang dibutuhkan oleh audiens.

Sebelum membuat konten, kita dapat mencoba menjawab beberapa pertanyaan:

Contohnya, konten untuk siswa SMK tentu dapat menggunakan pendekatan bahasa dan visual yang berbeda dengan konten untuk pemilik perusahaan atau manajer HRD.

5. Membuat Gambaran Sederhana tentang Audiens

Kita tidak harus membuat penelitian pasar yang rumit untuk memulai. Gambaran sederhana tentang calon audiens sudah cukup membantu menentukan gaya dan isi konten.

👤 Target: Pemilik UMKM

📍 Lokasi: Area kota dan sekitarnya

🎯 Kebutuhan: Mendapatkan lebih banyak pelanggan

😵 Masalah: Belum memahami promosi digital

📱 Platform: WhatsApp, Instagram, Facebook

💡 Topik relevan: Cara membuat konten promosi, foto produk, Google Business Profile, dan penggunaan WhatsApp Business.

6. Tentukan Content Pillar

Content pillar adalah kelompok tema utama yang menjadi dasar pembuatan konten secara konsisten.

Dengan content pillar, kita tidak perlu memulai dari nol setiap kali ingin membuat postingan.

Contoh content pillar untuk sebuah LPK:

7. Jenis-Jenis Konten Digital

Tidak semua pesan harus disampaikan dengan format yang sama. Pemilihan format harus disesuaikan dengan tujuan, karakter audiens, dan platform yang digunakan.

📝 Artikel Blog

Artikel cocok digunakan untuk menjelaskan topik secara mendalam, memberikan panduan, menjawab pertanyaan, dan membangun keberadaan website di mesin pencari.

🖼️ Gambar dan Infografis

Gambar dan infografis cocok untuk menyampaikan informasi secara cepat. Data, daftar tips, proses, atau perbandingan dapat dibuat lebih mudah dipahami secara visual.

🎬 Video

Video dapat digunakan untuk tutorial, demonstrasi produk, edukasi, storytelling, wawancara, maupun promosi.

🎙️ Audio dan Podcast

Audio dapat digunakan untuk edukasi, diskusi, wawancara, atau konten yang dapat dikonsumsi sambil melakukan aktivitas lain.

📱 Konten Media Sosial

Konten media sosial biasanya lebih singkat dan dirancang agar mudah dikonsumsi, dibagikan, dan direspons oleh audiens.

8. Memilih Format Konten yang Tepat

Jangan memilih format hanya karena format tersebut sedang populer. Pertimbangkan hubungan antara pesan dan cara terbaik untuk menyampaikannya.

💡 Contoh sederhana:

  • Tutorial komputer → Video atau artikel langkah demi langkah
  • Data statistik → Infografis
  • Cerita pelanggan → Video atau artikel
  • Pengumuman singkat → Gambar atau postingan media sosial
  • Panduan lengkap → Artikel website
  • Demonstrasi produk → Video

9. Cara Menemukan Ide Konten

Kehabisan ide merupakan masalah umum dalam pengelolaan konten. Padahal, ide dapat diperoleh dari berbagai sumber.

10. Membuat Judul dan Headline yang Menarik

Judul merupakan salah satu bagian pertama yang dilihat audiens. Judul yang baik harus menarik perhatian tanpa memberikan janji yang berlebihan atau menyesatkan.

11. Struktur Dasar Konten

Konten yang baik memiliki alur yang jelas sehingga audiens tidak kesulitan mengikuti informasi.

  1. Hook: menarik perhatian di awal.
  2. Masalah: menjelaskan masalah atau kebutuhan audiens.
  3. Value: memberikan informasi atau solusi.
  4. Contoh: memperjelas dengan contoh nyata.
  5. CTA: mengarahkan audiens melakukan tindakan berikutnya.

12. Storytelling dalam Konten Digital

Storytelling adalah cara menyampaikan pesan melalui cerita sehingga informasi terasa lebih dekat dan mudah diingat.

Cerita tidak harus selalu dramatis. Cerita sederhana tentang masalah, proses, pengalaman, atau perubahan juga dapat menjadi konten yang kuat.

  1. Situasi awal
  2. Masalah yang muncul
  3. Proses mencari solusi
  4. Hasil atau perubahan
  5. Pelajaran yang dapat diambil

13. Call to Action (CTA)

Call to Action adalah ajakan kepada audiens untuk melakukan tindakan tertentu setelah melihat konten.

14. Prinsip Dasar Konten Visual

Konten visual harus mudah dipahami, tidak terlalu penuh, dan memiliki identitas yang konsisten.

15. Dasar Pembuatan Video Digital

Video menjadi salah satu format penting dalam pemasaran digital. Namun video yang efektif tidak selalu membutuhkan peralatan mahal.

Untuk memulai, kita dapat menggunakan smartphone, pencahayaan yang cukup, suara yang jelas, dan konsep yang sederhana.

Struktur video pendek yang sederhana:

  1. 0–3 detik: Hook atau pembuka yang menarik.
  2. Bagian utama: Sampaikan informasi atau demonstrasi.
  3. Penutup: Kesimpulan atau CTA.

16. AI sebagai Alat Bantu Pembuatan Konten

Perkembangan AI memberikan banyak pilihan untuk membantu proses pembuatan konten. AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mencari ide, membuat outline, mengembangkan variasi judul, merapikan tulisan, membuat konsep visual, atau membantu proses brainstorming.

Namun AI sebaiknya tidak diperlakukan sebagai pengganti proses berpikir. Konten tetap membutuhkan pengetahuan, pengalaman, pengecekan fakta, dan sentuhan manusia agar hasilnya relevan dan dapat dipercaya.

🤖💡

🚀 Ingin Belajar AI Lebih Dalam?

AI dapat menjadi alat bantu untuk mempercepat pekerjaan digital, termasuk mencari ide, membuat konten, menganalisis informasi, hingga membantu berbagai pekerjaan lainnya. Pelajari AI secara bertahap mulai dari dasar hingga penerapannya dalam kehidupan dan dunia kerja.

🤖 Belajar AI di TTC →

17. Optimasi Konten untuk Mesin Pencari

Jika konten dibuat untuk website, kita perlu mempertimbangkan bagaimana mesin pencari memahami isi halaman tersebut.

SEO bukan berarti memasukkan kata kunci sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah membuat konten yang benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.

18. Membuat Website sebagai Media Konten

Selain media sosial, konten digital dapat dikemas menjadi sebuah website. Website memberikan ruang yang lebih luas untuk menyimpan informasi, artikel, foto, video, katalog produk, profil perusahaan, program layanan, hingga formulir kontak.

Dalam digital marketing, website dapat berfungsi sebagai pusat informasi, sedangkan media sosial, mesin pencari, email, dan aplikasi pesan dapat menjadi saluran untuk mendatangkan pengunjung ke website.

💡 Gambaran sederhananya:

📱 Media Sosial → 🌐 Website → 💬 Kontak / WhatsApp → 🎯 Konversi

Karena itu, seorang praktisi digital marketing sebaiknya memahami setidaknya dasar-dasar pembuatan website, walaupun tidak harus menjadi programmer profesional.

19. Memahami Komponen Dasar Website

Website sederhana dapat dibuat menggunakan tiga teknologi utama:

🏗️ Analogi sederhana:

  • 🧱 HTML = struktur bangunan
  • 🎨 CSS = desain dan tampilan bangunan
  • ⚙️ JavaScript = sistem yang membuat bagian tertentu dapat bekerja/interaktif

Untuk website sederhana, kita bahkan dapat memulai dari HTML dan CSS terlebih dahulu. JavaScript ditambahkan ketika website membutuhkan interaksi tertentu.

20. Langkah-Langkah Membuat Website Sederhana

Berikut alur sederhana yang dapat digunakan oleh pemula untuk membuat website dari awal.

  1. Tentukan tujuan website
    Misalnya website profil usaha, portofolio, LPK, toko online, landing page, atau website tutorial.
  2. Tentukan target pengunjung
    Tentukan siapa yang akan menggunakan website dan informasi apa yang mereka butuhkan.
  3. Buat struktur halaman
    Tentukan halaman seperti Beranda, Tentang, Layanan, Produk, Artikel, dan Kontak.
  4. Siapkan konten
    Siapkan teks, gambar, logo, video, informasi produk, alamat, nomor kontak, dan materi lainnya.
  5. Buat struktur HTML
    Gunakan HTML untuk menyusun heading, paragraf, gambar, link, list, tabel, formulir, dan elemen lainnya.
  6. Atur tampilan dengan CSS
    Gunakan CSS untuk mengatur warna, font, jarak, layout, tombol, kartu, dan tampilan mobile.
  7. Tambahkan JavaScript bila diperlukan
    JavaScript dapat digunakan untuk menu interaktif, validasi formulir, kalkulator, popup, manipulasi halaman, dan fungsi lainnya.
  8. Uji website
    Periksa link, gambar, formulir, tampilan desktop, dan tampilan smartphone.
  9. Publikasikan ke hosting
    Setelah website selesai, file website dapat ditempatkan pada layanan hosting agar dapat diakses melalui internet.

21. Contoh Struktur Website Sederhana

Sebuah website bisnis sederhana dapat memiliki struktur seperti berikut:

🌐 Website UMKM

  • 🏠 Beranda
  • 👤 Tentang Kami
  • 🛍️ Produk / Layanan
  • 📚 Artikel / Blog
  • ⭐ Testimoni
  • 📍 Lokasi
  • 📞 Kontak / WhatsApp

Struktur tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak semua website membutuhkan banyak halaman. Landing page sederhana pun dapat menjadi website yang efektif jika informasinya jelas dan memiliki tujuan yang tepat.

22. Materi HTML untuk Membuat Website

Untuk mempelajari pembuatan website secara lebih mendalam, TTC telah menyediakan materi HTML yang dimulai dari konsep web server dan browser, kemudian dilanjutkan dengan HTML, CSS, dan JavaScript.

Materi tersebut dapat digunakan sebagai jalur belajar lanjutan bagi peserta yang ingin membuat website sendiri secara lebih serius.

🌐💻

🚀 Ingin Belajar Membuat Website?

Pelajari materi HTML TTC mulai dari Web Server & Browser, struktur HTML5, teks, gambar, link, tabel, formulir, CSS, JavaScript, DOM, Fetch API, hingga JavaScript tingkat lanjut.

💻 Belajar Membuat Website →

23. Website sebagai Pusat Konten Digital

Salah satu strategi yang menarik adalah menjadikan website sebagai tempat utama untuk menyimpan konten, kemudian menggunakan berbagai saluran digital untuk mendistribusikannya.

Misalnya kita membuat satu artikel lengkap di website tentang "Cara Memilih Pelatihan Komputer untuk Pemula".

Artikel tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi:

Dengan pendekatan seperti ini, website tidak berdiri sendiri. Website menjadi pusat informasi, sedangkan platform lain membantu mendatangkan audiens.

24. Website Harus Nyaman di Smartphone

Sebagian besar aktivitas digital dilakukan melalui perangkat mobile. Karena itu, website harus dirancang agar tetap nyaman dibaca dan digunakan pada layar yang lebih kecil.

Perhatikan beberapa hal berikut:

25. Website, Konten, dan SEO

Website dan konten memiliki hubungan yang erat dengan SEO. Konten yang bermanfaat dapat menjadi sumber informasi bagi pengunjung sekaligus membantu mesin pencari memahami topik sebuah halaman.

Karena itu, ketika membuat website untuk digital marketing, kita tidak cukup hanya memikirkan tampilannya. Kita juga perlu memikirkan:

26. Konten Original dan Hak Cipta

Dalam membuat konten, kita perlu memperhatikan hak cipta. Jangan sembarangan mengambil foto, video, musik, ilustrasi, atau tulisan milik orang lain lalu menggunakannya untuk kepentingan komersial.

Sebaiknya gunakan:

27. Distribusi Konten

Membuat konten saja belum cukup. Konten harus didistribusikan melalui saluran yang sesuai dengan karakter audiens.

28. Content Repurposing

Content repurposing adalah menggunakan kembali ide atau materi yang sudah dibuat ke dalam format atau saluran yang berbeda.

Contoh:

Artikel: "5 Tips Membuat Website untuk UMKM"

Dapat dikembangkan menjadi:

  • 📱 1 carousel Instagram
  • 🎬 2–3 video pendek
  • 🖼️ 1 infografis
  • 💬 Beberapa postingan singkat
  • 📨 1 materi email

Dengan cara ini, satu ide tidak harus berhenti pada satu postingan. Kita dapat memperpanjang nilai sebuah konten tanpa selalu membuat semuanya dari awal.

29. Membuat Kalender Konten

Kalender konten membantu kita merencanakan apa yang akan dipublikasikan, kapan dipublikasikan, dan di platform mana konten tersebut akan digunakan.

  • Senin: Konten edukasi
  • Rabu: Tips singkat
  • Jumat: Konten produk atau layanan
  • Sabtu: Behind the Scene

Jadwal tersebut hanyalah contoh. Tidak ada satu frekuensi posting yang cocok untuk semua bisnis. Yang lebih penting adalah jadwal yang mampu kita jalankan secara konsisten dan sesuai sumber daya yang tersedia.

30. Alur Kerja Pembuatan Konten

Agar proses produksi lebih teratur, kita dapat menggunakan alur kerja berikut:

  1. 🎯 Menentukan tujuan
  2. 👥 Menentukan audiens
  3. 💡 Mencari ide
  4. 📝 Membuat outline
  5. ✍️ Menulis naskah atau caption
  6. 🎨 Membuat desain atau visual
  7. 🎬 Melakukan produksi video jika diperlukan
  8. 🌐 Membuat atau menempatkan konten pada website bila diperlukan
  9. 🔍 Memeriksa isi dan kesalahan
  10. 📱 Menyesuaikan dengan platform
  11. 🚀 Mempublikasikan
  12. 📊 Mengukur performa
  13. 🔄 Memperbaiki konten berikutnya

31. Mengukur Performa Konten

Setelah konten dipublikasikan, kita perlu melihat hasilnya. Evaluasi membantu mengetahui konten mana yang disukai audiens dan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Beberapa indikator yang dapat diamati:

Jangan hanya melihat jumlah like. Sebuah konten dengan sedikit like tetapi menghasilkan banyak kunjungan, pertanyaan, atau pendaftaran dapat memiliki nilai bisnis yang lebih tinggi.

32. Kesalahan Umum dalam Pembuatan Konten

33. Contoh Strategi Konten untuk UMKM

Misalnya kita memiliki sebuah usaha kopi lokal. Daripada hanya memposting foto produk dan harga setiap hari, kita dapat membuat beberapa kelompok konten.

Konten tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi artikel website, video pendek, postingan media sosial, dan materi WhatsApp.

34. Latihan Praktik

Setelah mempelajari materi, peserta dapat melakukan latihan berikut.

  1. Pilih satu bisnis, lembaga, produk, atau jasa sebagai objek latihan.
  2. Tentukan target audiensnya.
  3. Tentukan tiga sampai lima content pillar.
  4. Buat minimal 10 ide konten.
  5. Pilih tiga ide terbaik.
  6. Tentukan format untuk masing-masing konten.
  7. Buat satu headline untuk setiap konten.
  8. Buat outline singkat.
  9. Tentukan CTA.
  10. Buat satu konten siap dipublikasikan.
  11. Jika sesuai kebutuhan, ubah salah satu konten menjadi halaman website sederhana.

35. Checklist Pembuatan Konten Digital

  • ☐ Tujuan konten sudah jelas
  • ☐ Target audiens sudah ditentukan
  • ☐ Topik relevan dengan kebutuhan audiens
  • ☐ Format konten sudah dipilih
  • ☐ Headline atau hook menarik
  • ☐ Isi memberikan manfaat
  • ☐ Visual mudah dipahami
  • ☐ Informasi sudah diperiksa
  • ☐ Hak cipta sudah diperhatikan
  • ☐ CTA sudah tersedia bila diperlukan
  • ☐ Konten sesuai platform tujuan
  • ☐ Website tersedia jika memang dibutuhkan
  • ☐ Tampilan website nyaman di smartphone
  • ☐ Jadwal publikasi sudah ditentukan
  • ☐ Performa akan dievaluasi setelah publikasi

36. Kesimpulan

Pembuatan konten digital bukan hanya kegiatan membuat gambar, menulis caption, atau membuat video. Konten yang efektif dimulai dari pemahaman terhadap tujuan dan audiens.

Konten juga tidak harus berhenti di media sosial. Kita dapat mengembangkan konten menjadi artikel, video, infografis, email, maupun halaman website.

Bahkan, website dapat menjadi pusat informasi yang menghubungkan berbagai saluran digital.

🎯 Tujuan → 👥 Audiens → 💡 Ide → 📝 Konten → 🌐 Website → 📱 Distribusi → 📊 Evaluasi → 🔄 Perbaikan

Kunci utamanya bukan membuat konten sebanyak-banyaknya, tetapi membuat konten yang relevan, bermanfaat, konsisten, dan dapat mendukung tujuan digital marketing kita.